topbella

Selasa, 01 Maret 2011


  1. PENGERTIAN TUNA NETRA
Menurut White Conference pengertian Tunanetra adalah sebagai berikut:
  1. Seseorang dikatakan buta baik total maupun sebagian (low vision) dari kedua matanya sehingga tidak memungkinkan lagi baginya untuk membaca sekalipun dibantu dengan kacamata.
  2. Seseorang dikatakan buta untuk pendidikan bila mempunyai ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada bagian mata yang terbaik setelah mendapat perbaikan yang diperlukan atau mempunyai ketajaman penglihatan lebih dari 20/200 tetapi mempunyai keterbatasan dalam lantang pandangnya sehingga luas daerah penglihatannya membentuk sudut tidak lebih dari 20 derajat.

  1. KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK TUNA NETRA

  1. Tingkat ketajaman pengelihatan
  • 6/6-6/16 atau 20/20-20/50
  • 6/20-6/60 atau 20/70-20/200
  • 6/60 lebih atau 20/200 lebih

  1. Saat terjadinya kebutaan
  • Tuna netra sebelum dan sesudah lahir
  • Tuna netra batita
  • Tuna balita
  • Tuna nerta pada usia sekolah
  • Tuna netra remaja
  • Tuna netra dewasa

  1. Tingkat kelemahan visual
  • Tidak ada kelemahan visual
  • Kelemahan visual ringan
  • Kelemahan visual sedang
  • Kelemahan visual sangat parah
  • Kelemahan visual yang mendekati buta total
  • Kelemahan visual total

  1. Ketidakmampuan dalam melihat taraf ringan
  • Ketidakmampuan melihat taraf ringan
  • Ketidakmampuan pengelihatan taraf sedang
  • Ketidakmampuan pengelihatan pada taraf parah
Karakteristiknya adalah:
  1. Tidak mampu melihat,
  2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,
  3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
  4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
  5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
  6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
  7. Mata bergoyang terus.
  1. ESENSI
Istilah PPI diadopsi dari istilah Indivilized Educational Program (IEP). PPI pada dasarnya merupakan dokumen tertulis yang dikembangkan dalam suatu rencana pembelajaran bagi anak luar biasa. Para ahli sepakat bahwa salah satu pijakan dalam penyusunan program hendaknya bertitik tolak dari kebutuhan anak, sebab anak adalah individu yang akan dibelajarkan.
PPI ini bertolak dari suatu pandangan yang mengakui bahwa manusia merupakan makhluk individu. Dari sebuah kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Pemenuhan kebutuhan untuk kelangsungan hidup individu merupakan hal yang sangat mendasar.
PPI menjadi sangat penting keberadaannya karena PPI merupakan cara yang senantiasa berupaya mengakomodasi kebutuhan dari masalah yang dihadapi oleh anak tuna netra. Tajamnya perbedaan, kompleknya masalah dan hambatan belajar yang dihadapi membawa konsekuensi kepada kompetensi guru dalam menyusun rencana pelajaran.

  1. PROSEDUR PENYUSUNAN PEMBELAJARAN PPI
Program pembelajaran individual disusun dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa. Prosedur yang ideal untuk mengembangkan program pembelajaran individual dikemukakan Kitano and Kirbly (1986) memiliki lima aspek yaitu pembentukan tim PPI, menilai kebutuhan khusus anak, mengembangkan tujuan jangka panjang dan jangka pendek, merancang metode dan prosedur pembelajaran dan menentukan evaluasi kemajuan anak. Masing-masing aspek akan dijelaskan sebagai berikut:
  1. Pembentukan Tim PPI
Langkah awal dalam penyusunan program pembelajaran individual adalah membentuk suatu tim yang disebut dengan tim PPI. Tim PPI inilah kelak mempunyai tugas dan merancang dan menyusun suatu program pembelajaran . anggota tim perancang PPI, idealnya bersifat multi-disiplin dan terdiri dari orang-orang yang bekerja dan memiliki informasi untuk dapat dikembangkan lebih lanjutdidalam menyusun rancangan program secara komprehensif. Secara umum anggota yang dimaksud dalam tim PPI adalah guru PLB, kepala sekolah, guru umum, orang tua, dan specialis lain (seperti : konselor, speech terapist, pediatris, dan psikolog). Dicantumkannya Guru reguler karena pada awal IEP diperuntukkan di sekolah reguler yang didalamnya terdapat anak luar biasa.
Untuk kondisi Indonesia tuntutan pembentukan tim seperti yang digambarkan akan mengalami kesulitan bahkan mungkin menjadi hambatan proses pelaksanaan pembelajaran individual. Untuk menghindari hal seperti itu maka pembentukkan tim PPI yang dimaksud dalam buku ini anggotanya terdiri dari para guru bersama kepala sekolah dan orang tua siswa yang memiliki komitmen terhadap pendidikan anak tuna grahita, pembentukkan tim yang terdiri dari para guru, kepala sekolah, dan orangtua tidak dapat mengurangi makna penyusunan program, karena sesungguhnya merekalah yang sangat memahami seluk-beluk keberadaan anak tunanetra.
Dalam proses pembentukan tim PPI , kepala sekolah merupakan ujung tombak. dalam tim itu, kepala sekolah memiliki posisi sebagai koordinator dan konsultan bagi para guru dan orangtua didalam mengemukakan pendapat dan temuannya. Kepala sekolah, guru, dan orang tua duduk bersama untuk merembukkan dan mencari kesepakatan-kesepakatan serta solusi atas program yang akan dan atau telah dirancang oleh guru.
Ada dua hal yang panting sebelum pembentukkan tim antara pihak sekolah (kepala sekolah dan guru) dengan orang tua yang harus disiapkan pihak sekolah:
Pertama : pihak sekolah harus sudah menyiapkan gambaran umum masing-masing anak yang diperoleh berdasarkan hasil asesmen, untuk dikonfirmasikan lebih lanjut kepada orangtua. Hal ini penting karena orang tua cenderung menganggap bahwa pihak sekolah lah (guru dan kepala sekolah) yang memahami segala kondisi putra-putrinya. Akibatnya para orangtua menjadi pasif untuk membantu memberikan latihan atau membantu pendidikan anak dirumahnya. Anggapan seperti itu keliru dan perlu dijelaskan pada mereka bahwa orangtua lah yang sesungguhnya memahami secara detil tentang perilaku, kelemahan dan kemampuan putranya.informasi mengenai keberadaan kondisi anak dirumah, merupakan data penting bagi sekolah dalam menindak lanjuti proses pembelajaran mereka. Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah alasan-alasan kenapa perlu dibentuk tim PPI secara jelas dan rinci seperti ; tujuan dan sasaran serta posisi orangtua di dalam tim tersebut.
Kedua ; menyiapkan kuesioner mengenai harapan-harapan orangtua dan gambaran umum mengenai putra-putrinya, sehingga diakhir pertemuan diharapkan dicapai kesepakatan-kesepakatan mengenai prioritas dan sasaran yang akan ditetapkan dalam PPI.


  1. Menilai kebutuhan
Menilai kekuatan dan kelemahan yang akan menjadi rujukan didalam menetapkan kebutuhan anak merupakan langkah awal dari tugas guru selaku tim PPI. Informasi ini akan menjadi data penting dan pertama harus ditemukan untuk selanjutnya dikembangkan di dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Proses menemukan kekuatan dan kelemahan tersebut merupakan penilaian penting yang diperoleh melalui hasil kerja asesmen.
Perolehan mengenai data tadi dapat dilakukan guru melalui kegiatan observasi, baik didalam maupun diluar kelas. Guru juga dapat meminta informasi anak didiknya dari orangtua. Data yang diperlukan meliputi riwayat hidup anak, kebiasaan-kebiasaan atau perilaku yanng ditunjukkan serta bantuan yang sering atau pernah dilakukan orangtua.
Untuk memudahkan data ini tim PPI hendaknya membuat instrument atau format isisan seperti; data riwayat hidup, perkembangan bahasa, motorik, perilaku.

  1. Menggembangkan tujuan pembelajaran
Di dalam mengembangkan tujuan pembelajaran prosesnya dapat dilakukan melalui penyelarasan antara materi yang ada dalam kurikulum dengan temuan hasil asesmen. Posisi hasil asesmen mungkin akan diletakkan dibawah, ditengah atau diatas dari urutan materi yang terdapat dalam urutan kurikulum, hal ini akan tergantung pada kondisi dan kemampuan yang diperlihatkan oleh setiap anak.
Dalam IEP tujuan pembelajaran itu dikenal dengan istilah tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Guru tidak perlu khawatir dengan penggunaan istilah itu. Guru dapat menggunakan istilah yang biasa dilakukan seperti tujuan instraksional umum (TIU) untuk jangka panjang, dan tujuan instraksional khusus (TIK) untuk jangka pendek.
Tujuan jangka panjang merupakan tujuan yang akan ditempuh dalam jangka waktu relatif panjang mungkin untuk satu semester atau untuk satu tahun. Sementara tujuan jangka pendek atau tujuan instraksional khusus , merupakan tujuan yang akan menuntut terjadinya perubahan perilaku yang diharapkan dalam waktu relatif singkat.
Untuk itu tujuan jangka pendek ini hendaknya dirumuskan secara spesifik, jelas, mudah diukur, dan bersifat kuantitatif. Artinya ; rumusan tujuan jangka pendek menuntut suatu pertanyaan yang jelas tentang perilaku yang diharapkan serta derajat keberhasilan yang dikehendaki. Melalui rumusan semacam itu akan memungkinkan guru dapat melakukan penilaian keberhasilan belajar siswa secara lebih tepat dan akurat.

  1. Merancang metode dan prosedur pembelajaran.
Proses pembelajaran yang dirancang dalam PPI hendaknya mampu menggambarkan bagaimana setiap tujuan pembelajaran itu akan dapat diselesaikan, serta bagaimana penilaian keberhasilan anak dalam mencapai tujuan penbelajaran tersebut. Proses pembelajaran mungkin dirancang dengan cara mengelompokkan anak berdasarkan kondisi dan karakteristik materi yang akan dibelajarkan secara kooperatif, mungkin sangat heterogen dan dikelolah lebih bersifat individual. Proses pembelajaran secara kooperatif ini akan dikelolah guru sesuai kondisi dan situasi peserta didik yang dihadapinya. Perubahan strategi atau metode sangat mungkin terus terjadi. Untuk itu dalam mengelolah proses pembelajaran, kreatifitas guru menjadi sangat menentukan.

  1. Menentukan evaluasi kemajuan
Evaluasi kemajuan belajar hendaknya mengukur derajat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam setiap tujuan jangka pendek atau tujuan instruksional khusus. Hal penting yang harus dicamkan dalam melakukan evaluasi keberhasilan siswa adalah melihat terjadinya perubahan perilaku pada diri siswa itu sendiri sebelum dan setelah diberikan perlakuan, dan bukan membandingkan keberhasilan tingkat pencapaian tujuan belajar yang dicapai dengan siswa lain yang ada dikelas itu. Metode evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, test secara tertulis, maupun lisan. Evaluasi keberhasilan itu harus dilakukan dari dua sisi yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil. Kedua penilaian ini memiliki posisi dan kepentingan yang berbeda. Evaluasi proses penting dalam kaitannya melakukan berbagai perubahan dalam strategi pembelajaran, sementara evaluasi hasil penting untuk melihat tingkat pencapaian keberhasilan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Laporan evaluasi kemajuan siswa hendaknya bersifat kualitatif sebab secara penilaian ini akan memberi gambaran secara nyata. Program bembelajaran individual hendaknya diperbaiki secara terus menerus. Perubahan itu hendaknya merujuk kepada pencapaian tujuan yang telah dan sedang diselesaikan. Serta temuan – temuan yang diperoleh berdasarkan observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Perubahan ini kerap kali terjadi secara signifikan, dan jangan diartikan sebagai kegagalan, melainkan sebagai kemajuan program didalam melakukan perubahan – perubahan tujuan yang lebih positif dan realistis, sejalan dengan kebutuhan anak yang senantiasa berubah – ubah. Oleh karenanya PPI jangan dijadikan semacam kontrak yang sifatnya baku dan kaku, melainkan lentur dan sangat fleksibel. Jika perubahn itu memerlukan modifikasi yang relatif besar, maka hasil modifikasi itu hendaknya dikomunikasikan pada orang tua dalam pertemuan rutin Tim PPI. Mengkomunikasikan pertemuan orangtua ini penting untuk memperoleh persetujuan dan mengakomodasi harapan baru, sekaligus mengkomunikasikan tugas-tugas yang baru dilakukan orangtua didalam membantu keberhasilan belajar anaknya.
  1. KENDALA-KENDALA DALAM PENYUSUNAN PPI
  1. Budaya Sekolah
Adanya kesan penyusunan PPI itu sangat sulit, hanya menambah beban kerja guru dan sangat menyita tenaga dan waktu, sebetulnya akibat dari kurangnya komitmen dan sikap profesional guru yang rendah.
Cara kerja dengan berorientasi kepada kurikulum yang ada ini telah berjalan lama, mengkristal pada diri guru, sehingga telah membentuk kebiasaan (budaya), oleh karenanya menjadi sulit untuk menerima inovassi baru dalam pendidikan.
Untuk memulihkan kebiasaan-kebiasaan yang kurang mendukung terhadap pelaksanaan PPI, peran sekolah menjadi sangat strategis dalam memberimotivasi dan pemahaman kepada guru-guru untuk memulai menerapkan PPI. Kepala sekolah juga perlu mengkomunikasikan pelaksanaan PPI tersebut kepada pihak pemerintah untuk turut memberi dukungan penuh.

  1. Kendala Teknis
Hambatan lain yang sering dihadapi guru berkenaan dengan penyusunan PPI di lapangan menyangkut masalah-masalah yang bersifat teknis. Hambatan-hambatan yang dimaksud dan cukup menonjol dihadapi guru adalah:
Pertama : menyangkut teknik di dalam proses menurunkan apa yang
menjadi reprequisit dari setiap kelemahan yang ditunjukkansiswanya untuk disusun secara sistematis menjadi materi.
Kedua : menyangkut teknik di dalam menyelaraskan antara materi
yang disusun berdasarkan hasil asesmen dengan materi yang disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku (yang ada) menjadi suatu dokumen atau program yang utuh dan sistematis.
Menyelaraskan program berdasarkan hasil asesmen dengan kurikulum yang ada sebutulnya dapat dilakukan guru dengan mudah dan sederhana.. Misalnya;
Pertama : Urutkan materi yang telah disusun berdasarkan materi yang
telah disusun dalam kurikulum. Tugas guru adalah menggabungkan kedua materi tadi. Penempatan butir-butir (materi hasil asesmen) dilakukan berdasarkan subpokok bahasan yang telah disusun dalam kurikulum.
Kedua : Sebagai langkah berikutnya susun atau urutkan kembali
materi yang telah digabungkan tadi,kemudian penggal menjadi beberapa pertemuan. Pemenggalan itu dapat dilakukan berdasarkan semester.
Perlu dikemukakan bahwa kesenjangan antara materi yang ada dalam kurikulum dengan materi yang diperoleh berdasarkan hasil asesmen sering kali terjadi dalam rentang yang cukup tajam.

  1. ASESMEN
  1. Definisi
Asesmen adalah proses yang sistematis dalam mengumpulkan data seorang anak. Dalam kontek pendidikan asesmen berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi itulah seorang guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realistis sesuai dengan kenyataan obyektif dari anak tersebut.
Di lapangan asesmen sering menjadi samar digunakan secara tidak tepat. Dilihat dari pelaksanaannya; asesmen bukan hanya dilakukan diakhir dan disaat proses belajar berlangsung, tetapi jauh sebelum proses belajar itu terjadi, asesmen telah dilakukan dan proses ini akan terus bergulir tanpa henti dilihat dari kontennya (instrumen). Asesmen didasarkan kepada masalah dan kemampuan yang dimiliki anak dilihat dari tujuan : asesmen untuk melihat kondisi anak saat itu dalam rangka menyusun suatu program pembelajaran sehingga dapat melakukan intervensi secara tepat.
Tujuan utama asesmen pada prinsipnya adalah untuk menentukan bagaimana keadaan anak saat ini. Untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi anak pada saat ini perlu dilakukan modifikasi asesmen, sehingga program pembelajaran yang disusun cocok dengan keadaan dan kebutuhan setiap anak.

  1. Ruang Lingkup
Dalam pendidikan anak tunanetra sekurang-kurangnya terdapat tiga bidang yang memerlukan tindakan asesmen yaitu; bidang akademik, bidang orientasi mobilitas, dan bidang perilaku. Ketiga bidanng ini bagi anak tunanetra merupakan dasar dalam kehidupan mereka sehari-hari untuk kelak dapat hidup secara mandiri. Disamping itu ketiga bidang tadi merupakan hambatan atau kesulitan yang sering dihadapi oleh kebanyakan anak tunanetra.
Berkenaan dengan pengembangan program pembelajaran individual ketiga bidang tadi menjadi objek pokok dalam dunia pendidikan anak tunanetra.

  1. Prosedur Pengembangan Instrumen Asesmen
Sebetulnya untuk mengembangkan instrumen asesmen bukanlah suatu pekrjaan yang sulit, seperti yang di bayangkan banyak orang termasuk para guru dilapangan, sesungguhnya aktivitas penyusun istrumen tersebut merupakn pekerjaan rutin guru dalam keseluruhan rangkaian proses pembelajaran yang biasa dilakukan oleh setiap guru. Ia akan melakukannya sebelum proses pembelajaran dimulai.
Untuk mendapatkan data yang akurat dari anak yang akan diasesmen diperlukan instrumen yang menandai. Sebetulnya ada beberapa langkah yang harus ditempuh guru berkenaan dengan penyusun istrumen asesmen. Langkah penyusun yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  1. Memahami aspek dan ruang lingkup yang akan diasesmen
  2. Menetapkan ruang lingkup













  1. Contoh Instrumen Asesmen Tunanetra
Gejala Yang Diamati
NAMA SISWA YANG DIAMATI (BERDASARKAN NOMOR URUT)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
dst
1. Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
a
Kurang melihat (Kabur) tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter










b
Kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya










c
Tidak dapat menulis mengikuti garis lurus










d
Sering meraba dan tersandung waktu berjalan










e
Bagian bola mata yang hitam bewarna keruh/ bersisik/kering










f
Tidak mampu melihat










g
Mata bergoyang terus










h
Peradangan hebat pada kedua bola mata










i
Kerusakan nyata pada kedua bola mata











NILAI STANDAR: 4










  1. PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN BAGI ANAK TUNANETRA
Untuk mencapai tujuan pendidikan bagi anak tunanetra (buta) dibutuhkan jembatan. Jembatan itu adalah prinsip-prinsip pengajaran bagi anak tuan netra. Prinsip mengajar bagi anak tunanetra akan sangat berbeda dengan elowe vision. Tunanetara mempunyai kebiasaan, bila mengamati suatu benda pasti akan diraba, dicium, dan masuk mulut. Diraba untuk mengetahui pa yang sedang dipegang. Dicium untuk mengetahui bagaimanakah bau dari benda yang dipegang. Masuk mulut untuk diketahui bagaimanakah rasa dari benda tersebut. Cara itulah yang di pergunakan tunanetra untuk mengetahui secara tepat benda yang sedang berada ditangannya. Cara itulah tunanetra menanamkan suatu konsep. Maka dalam mengajar, seorang guru haruslah berpegang pada beberapa prinsip pengajaran bagi tunanetra, yaitu:
  1. Prinsip Totalitas
Totalitas berarti keseluruhan atau keseutuhan. Guru dalam mengajar suatu konsep haruslah secara keseluruhan atau utuh. Dalam memberikan contoh jangan sepotong-sepotong.
  1. Prinsip Keperagaan
Prinsip peragaan sangat dibutuhkan dalam menjelaskan suatu konsep baru pada siswa. Dengan peraga akan terhindar verbalisme (pengertian yang bersifat kata-kata tanpa dijelaskan artinya). Alasan penggunaan asas ini dalam pengajaran adalah :
  1. Menggunakan indra sebanyak mungkin sehingga siswa mampu mengerti dan mecerna maksud dari alat peraga.
  2. Pengetahuan akan masuk pada diri melalui proses pengindraan : pengelihatan, pendengar, perasaan, penciuman, pengecap.
  3. Tingkat pemahaman seseorang akan suatu ilmu ada beberapa tingkatan: tingkat peragaan, tingkat skema dan tingkat abstrak.
Alat peraga sangat dibutuhkan guru yang mengajar buta. Alat peraga sangat dibutuhkan dalam kaitannya dengan penanam konsep baru pada anak buta. Tanpa alat peraga anak buta akan sulit menerima suatu konsep.
3. Prinsip Berkeseimbangan
Prinsip berkeseimbangan atau berkelanjutan sangabt dibutuhkan tunanetra (buta). Mata pelajaran yang satu harus sinambung dengan pelajaran yang lain. Kesinambungan baik dalam materi maupun istilah yang dipergunakan guru. Jika tidak terjadi kesinambungan maka tunanetra (buta) akan bingung. Kebingungan ini terjadi karena konsep yang diterima dari guru yang satu dengan yang lain berbeda. Mereka beranggapan guru tempat informasi yang selalu benar. Maka disini guru disarankan agar selalu menghubungkan materi pelajaran yang telah dipelajari dengan yang akan dipelajari. Dan istilah yang dipergunakan hendaknya tidak terlalu bervariasi antara guru yang satu dengan yang lain.
  1. Prinsip Aktivitas
Prinsip aktivitas penting artinya dalam kegiatan belajar mengajar. Murid dapat memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi ini dilaksanakan dalam bentuk mengamati sendiri dengan bekerja sendiri. Tugas guru membantu anak dalam perkembangannya. Dengan demikian anak dapat membantu dirinya sendiri.
Prinsip aktivitas sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar bagi tunanetra (buta). Dalam suatu kegiatan belajar mengajar,tunanetra (buta) diharapkan ikut aktif, tidak saja sebagai pendengar. Tanpa aktivitas, konsep yang diterima anak akan sedikit. Akibatnya, pengalaman belajar sedikit dan mereka merasa jenuh. Situasi demikian membuat mereka mengantuk. Sebaliknya bila mereka aktif dalam kegiatan belajar mengajar, maka pengalaman belajar mereka banyak. Akibatnya konsep yang mereka terima akan menerima lebih lama. Situasi demikian membuat mereka mendapat kepuasan dalam belajar, sehingga akan menggali rasa ingin tahu yang tinggi.
  1. Prinsip Individual
Prinsip individual dalam pelajaran berarti suatu pengajaran dengan memperhatikan perbedaan individual anak: keadaan anak, bakat dan kemampuan masing-masing anak. Faktor yang menyebabkan perbedaan ini adalah: keadaan rumah, lingkungan rumah, pendidikan, kesehatan anak, makanan, usia, keadaan sosial ekonomi orang tua, dll. Dengan adanya perbedaan yang bermacam-macam dapat dipahami bahwa bahan pelajaran yang sama, kecepatan yang sama, cara mengerjakan yang sama, cara penilaian yang sama, tidak akan memberikan hasil yang sama.
Prinsip individual sangat dibutuhkan dalam mendidik tunanetra (buta). Prinsip individual merupakan ciri khas dari pengajaran untuk anak-anak tuna. Prinsip ini sangat dibutuhkan karena mereka mempunyai tingkat ketunaan yang berbeda, dan tingkat kemampuan yang berbeda pula. Bagi tunanetra, prinsip ini sangat berarti. Mata sebagai alat untuk melihat lingkungan, meniru kebiasaan orang lain, tidak berfungsi lagi. Tempat informasi yang diandalkan adalah guru dan indra-indranya. Dengan pengajaran secara individu maka anak dapat menanamkan konsep secara benar. Maka guru dituntut sabar, telaten, ulet, dan kreatif dalam mengajar tunanetra. Hal tersebut sangat dibutuhkan karena dalam mengajar, guru harus mengajar satu persatu siswanya yang tunanetra (buta).
Prinsip ini sangat penting dan berpengaruh dalam penyusunan PPI untuk anak tunanetra khususnya tunanetra total (buta). Karena tanpa adanya penggunaan prinsip ini, maka penyusunan PPI akan mengalami kendala-kendala dalam penerapannya untuk pengajaran dan pembelajaran siswanya.

  1. PENYUSUNAN PPI
  1. Rancangan PPI
Ada dua cara dalam penyusunan PPI. Cara yang pertama dikembangkan berdasarkan analisis kurikulum dengan hasil asesmen. Cara yang kedua dikembangkan terutama berdasarkan hasil asesmen, analisis kurikulum hanya sebagai rujukan formal. Oleh karena itu rancangan program pembelajran dititik beratkan kepada kebutuhan anak semata. Kedua penyusunan program tersebut akan dibahas secara berturut-turut:
  1. Cara pertama dalam mengembangkan PPI
Terdapat empat komponen yang perlu diperhatikan dalam menyusun PPI sebagai berikut:
  • Pokok / Sub pokok bahasan
Pada pokok bahasan / sub pokok bahasan merupakan topik yang diambil dari kurikulum (GBPP), sekaligus disesuaikan dengan hasil asesmen. Langkah pertama yang dilakukan melihat hasil asesmen untuk melihat kebutuhan belajar siswa. Langkah kedua melihat kebutuhan tersebut pada kurikulum (GPBB). Langkah ketiga merumuskan pokok bahasan dan sub pokok bahasan berdasarkan analisis hasil asesmen dengan kurikulum.
  • Materi
Materi pelajaran merupakan ruang lingkup dari pokok bahasan / sub pokok bahasan. Dalam mengembangkan materi pelajaran, hal yang sama harus dilakukan oleh guru seperti pada perumusan pokok bahasan baru yaitu melihat data hasil asesmen dan menganalisis kurikulum (GBPP). Selain itu dalam penyusunan materi, guru harus menganalisis urutan prerequisit materi pelajaran. Yang dimaksud prerequisit dalam pengembangan materi adalah ururtan logis dari materi yang satu ke materi yang lain. Urutan materi harus relevan dengan perkembangan kognitif anak atau kebutuhan anak.
  • Metode dan alat (media)
Metode yang digunakan dalam PPI tidak boleh terpaku pada satu metode tertentu, guru hendaknya menggunakan berbagai metode sesuai dengan kondisi anak (motivasi, temperamen, perhatian dan konsentrasi), karakteristik materi, dan situasi belajar.
Dalam memilih media, guru hendaknya memperhitungkan kemampuan kognitif anak, dan materi yang akan diajarkan. Media yang digunakan hendaknya bervariasi. Artinya, dalam menjelaskan satu konsep yang sama digunakan media yang berbeda-beda.
  • Pertemuan
Dalam menentukan jumlah pertemuan pada satu pokok / sub pokok bahasan akan sangat tergantung pada dua hal. Pertama; pada ruang lingkup materi pelajaran yang akan diberikan. Kedua; kepada tingkat kecepatan anak di dalam menyelesaikan tugas. Guru tidak boleh terpaku pada jumlah pertemuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Oleh karenanya jumlah pertemuan yang ditetapkan bersifat fleksibel, dan lebih bersifat prediktif. Jumlah pertemuan dalam satu pokok bahasan bisa lebih banyak atau lebih sedikit dari prediksi semula.Namun bukan berarti asal menetapkan dan tanpa alasan.

  1. Cara kedua dalam mengembangkan PPI
Cara kedua di dalam pengembangan PPI terutama didasarkan kepada hasil asesmen. Artinya kebutuhan belajar anak menjadi faktor yang lebih utama, sedangkan kurikulum (GBPP) hanya merupakan landasan formal.
Ada beberapa aspek yang perlu dikembangkan di dalam menyusun rancangan PPI dalam cara kedua. Aspek-aspek yang dimaksud meliputi:
  • Rumusan tujuan
Rumusan tujuan di sini meliputi tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan yang dirumuskan hendaknya relevan dan fungsional untuk setiap individu, dan cukup rasional untuk dapat dicapai selama periode tertentu. Pengertian relevan dalam hal ini sesuai dengan kebutuhan setiap individu, dan fungsional dimaksudkan benar-benar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Metode, Material dan Kegiatan
Metode pembelajaran tidak hanya menggambarkan bagaimana bahan ajar itu harus disampaikan, akan tetapi secara aktif harus merancang lingkungan belajar yang sesuai untuk meningkatkan proses pembelajaran dalam mencapai tujuan.
Material (Media) atau alat pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa, agar tujuan yang ditetapkan dapat dicapai dengan baik. Ada dua fungsi utama dari media. Pertama, media benar-benar memberi kemudahan kepada siswa dalam memahami sesuatu yang diajarkan. Kedua, media yang digunakan hendaknya dapat membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. Media yang baik adalah media yang dikembangkan oleh guru itu sendiri. Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh guru ketika merancang media yaitu, bersifat multifungsi. Artinya; media dirancang tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga harus berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan aspek-aspek psikologis dasar seperti; untuk mengembangkan aspek kognitif (persepsi; visual, auditif, kinestetik, memori, daya ingat, konsentrasi, dll), mengembangkan motorik, dsb.
Kegiatan (KBM) dalam konteks pembelajaran individual dapat dilakukan dalam tiga setting. Pertama; pembelajaran dilakukan secara individual yakni, seorang guru mengajar seorang anak. Kedua; pembelajaran dilakukan dalam kelompok kecil yaitu, seorang guru mengajar dua atau tiga anak dalam satu kelompok. Ketiga; pembelajaran dalam kelompok besar yaitu, seorang guru mengajar lima atau enam anak. KBM hendaknya dilakukan secara variatif yaitu, melibatkan unsur gerak, suara, bermain peran (role playing) atau simulasi, dll. Aktivitas belajar hendaknya terkait dengan realitas (tidak terisolasi), sehingga ada kesesuaian antara aktivitas belajar dengan lingkungan nyata.
  • Evaluasi
Kemajuan belajar siswa hendaknya diukur secara teratur dan secara periodik. Guru hendaknya mengukur kemajuan belajar siswa setiap hari dan menggunakan hasil evaluasi itu untuk mengambil keputusan dalam merencanakan program pembelajaran selanjutnya. Data hasil evaluasi hendaknya dicatat dalam bentuk prosedur yang sederhana.
  1. Contoh-contoh Rancangan PPI Anak Tunanetra
- Contoh cara pertama
GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL
Nama siswa : Muh. Fathoni Nama Guru : Tantri Maharani
Kelas/Semester : 5 / satu
Bidang studi : Matematika
Pokok/Sub Pokok Bahasan
Materi
Metode/Alat
Jumlah Pertemuan
Pengukuran waktu
1.1 Menentukan tanda waktu dengan notasi 12 jam, meliputi pukul 00.00 – 12.00 (melibatkan keterangan pagi, siang, sore dan malam)
1.2 Membaca jam dengan benar
1.3 Menentukan tanda waktu dengan
notasi 24 jam
1.4 Melakukan operasi hitung yang melibatkan satuan waktu
Metode:
Ceramah, Demonstrasi, Tanya Jawab dan Praktek
Alat:
Jam Braille
3 X
Surabaya, 20 Februari 2011
Ttd,


( Nama Guru )

- Contoh cara Kedua
PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL
Nama Siswa : Nur Diana
Kelas/Semester : II/ satu
Mata Pelajaran : Orientasi Mobilitas
Guru Penanggung Jawab : Tantri Maharani
Materi
(1)
Tujuan
(2)
Metode dan Media
(3)
Aktivitas / KBM
(4)
Evaluasi
(5)
  1. Mengenakan Pakaian
    1. Mengenakan rok
    1. Terampil mengenakan rok pendek
      1. Dapat menarik bagian atas pinggang rok, ke arah pinggang tanpa bantuan
      2. Dapat menarik bagian atas rok dari lutut ke arah pinggang
      3. Dapat mengenakan rok pendek secara utuh
Metode:
Demonstrasi dan Praktek
Alat:
Macam-macam rok pendek
Menuntun anak dalam mengenakan dan melepaskan rok pendek dengan bantuan dan atau tanpa bantuan secara per lahan-lahan Mengamati dan mencatat langkah demi langkah cara mengenakan rok pendek yang telah dan belum dapat dilakukan anak

Surabaya, 20 Januari 2011
Ttd,

( Nama Guru )

9. MENYUSUN SATUAN PEMBELAJARAN INDIVIDUAL
PPI yang digambarkan pada sebelumnya merupakan rumusan PPI yang bersifat jangka panjang. Agar program tersebut dapat diimplementasikan, perlu dirumuskan ke dalam satuan pelajaran individual jangka pendek (harian atau mingguan). Rancangan PPI hanya diperuntukkan bagi anak yang bersangkutan. Bukan untuk semua anak yang ada di kelas itu.
Gambaran kondisi awal siswa pada satuan pelajaran individual menjadi penting keberadaannya untuk memudahkan kita di dalam melihat kemajuan yang dicapai anak tersebut setelah proses pembelajaran dilakukan atau setelah diberikan intervensi.
SATUAN PELAJARAN INDIVIDUAL
NAMA SISWA : Muh. Fathoni
KELAS / SEMESTER : V / satu
BIDANG STUDI : Matematika
POKOK / SUB POKOK BAHASAN : Pengukuran Waktu
PERTEMUAN : 3 X (pertemuan)
SASARAN / TUJUAN
  1. Fathoni dapat Menentukan tanda waktu dengan notasi 12 jam
  2. Fathoni dapat membaca jam dengan benar
  3. Fathoni dapat Menentukan tanda waktu dengan notasi 24 jam
  4. Fathoni dapat Melakukan operasi hitung yang melibatkan satuan waktu
KONDISI AWAL
Fathoni termasuk tunanetra low vision dan juga hiperaktif, perkembangan aspek kognitifnya saat diobservasi sudah cukup matang untuk belajar matematika (pengukuran waktu). Sejalan dengan hal itu ia sudah mampu melakukan aktivitas seperti: Menentukan tanda waktu dengan notasi 12 jam, membaca jam dengan benar, Menentukan tanda waktu dengan notasi 24 jam. Fathoni juga mengalami kesulitan dalam melakukan operasi hitung yang melibatkan satuan waktu.
PROSES PEMBELAJARAN
Posisikan Fathoni secara berhadapan dengan guru, demonstrasikan kepadanya tentang jam braille, kemudian pinta Fathoni untuk menirukannya, beri motivasi dan lakukan secara berulang-ulang. Demonstrasikan pula cara mengoperasikan jam braille tersebut kepadanya. Tarik perhatian Fathoni, lalu tunjukkan bagian-bagian jam braille tersebut kemudian lakukan sesuai dengan sasaran tujuan materi yang telah direncanakan. Katakan kepadanya satu! Pinta Fathoni melakukan hal yang sama. Demonstrasikan dengan cara yang sama dan pinta ia untuk melakukan hal yang sama langkah demi langkah. Dorong dan beri reward jika melakukan secara benar dan tepat.
EVALUASI
Kriteria: Dinyatakan berhasil apabila 2 kali secara berturut-turut dapat menyelesaikan tugas tanpa bantuan.

Guru
Penanggung Jawab

0 komentar:

Poskan Komentar

I was in college in Surabaya State University, Faculty of Education, majoring in Special Need Education, Class of 2009
"Thank you for visiting my blog, hopefully useful to you"
^ _ ^